Thursday, March 2, 2017

siapapun engkau..



siapapun engkau,
kau tau manusia melangkah dalam labirin yang kadang menyayat atau membuat senyum
kadang, berdiri dalam posisi tidak stabil, bisa berpindah
aku dan engkau memiliki kemampuan untuk memilih
aku dan engkau sudah melampaui berbagai proses pilihan
banyak novel bercerita indahnya pilihan
Tolstoy bercerita Anna karenina dalam pilihan, dengan Vronsky atau suaminya
Dostoevsky di brothers Karamazov, berjibaku tentang pilihan kebebasan
kita manusia, seakan menyulitkan diri dengan berbagai pilihan di depan
memilih, bagian dari takdir
mudah kan?

Monday, June 6, 2016

Wednesday, April 27, 2016

aku masih ingat..



Aku masih inget senyummu saat terakhir kita bertemu di depan gedung dekan fikom, kamu pake baju ungu, celana jeans dan sepatu convers, aku juga masih ingat kita pernah makan soto sore pas hujan di jatinangor, aku pun masih ingat sms perpisahan malam itu.. aku masih ingat.. kamu masih ingat?

Thursday, March 10, 2016

keteraturan dan kebebasan


kuserahkan pasportku untuk diperiksa bea cukai singapura, melihat visa jermanku yang masih aktif, si petugas menyapa dalam bahasa jerman yang terbata-bata dan bertanya apa alasanku berunjung ke singapura, aku tersenyum sambil menjawab bahwa ada seminar di NUS. menuju pintu keluar aku melihatmu, sosok yang sama, yang sepertinya masih tidak beubah sejak setahun lalu bertemu. "halo there we meet again finally.." ujarmu, aku menjawab singkat dan tersenyum.
terakhir bertemu awal tahun lalu saat dia pulang liburan kuliah ke jakarta, namanya riefa, mahasiswi master psikologi klinis di NUS. aku mengenalnya saat dia masih kuliah dan aktif di salah satu radio di bandung. selesai kuliah di bandung, riefa pulang ke jakarta, sempat membantu bisnis pakaian muslim ibunya selama setahun sebelum akhirnya memutuskan meneruskan kuliah di singapura, sekarang dia sedang menyelesaikan tesisnya tentang paranoid skizofrenia. 
esoknya kami berbincang di satu kafe kecil dikawasan pacinan, riefa bercerita kehidupannya beberapa bulan terakhir ini, rencana2 apa saja yang dia ingin lakukan selepas lulus, mimpi2 apa saja yang ingin dia gapai beberapa tahun kedepan. aku tersenyum, aku tak pernah tertarik membicarakan rencana hidup. aku membalasnya dengan sedikit bercerita bahwa aku sudah tidak betah, hendak resign namun belum mendapat lagi pekerjaan baru. riefa memberikan banyak masukan, aku menghargai masukannya, namun aku seperti biasa membiarkan semuanya berjalan apa adanya, tak terencana, whatever will be will be.
riefa mendebatnya, ujarnya manusia harus terencana, kehidupan kedepan harus tersusun rapi. aku kembali tersenyum dan menjawab, "hidupku bukan perpustakaan atau tumpukan buku yang tersusun rapi sesuai abjad, hidup adalah kebebasan, biar besok menjadi misteri.." riefa kembali bicara masalah tanggung jawab, rasa malas akan keteraturan yang harus dilawan. aku diam sebentar lalu mengecup bibirnya, setelahya berucap "kau tak menolaknya, itu bukan keteraturan, itu kebebasan.."  

Tuesday, February 24, 2015

Tak ada yang berubah..


Akhirnya pada suatu reuni aku bisa bertemu dengannya, tampak jauh berbeda, tak ada lagi paduan kaos, kemeja dan sepatu converse warna biru muda yang biasa ia kenakan. Tak ada lagi tas casual warna merah dengan logo salah satu tim Football Amerika. Tak ada lagi senyuman yang melihatkan gigi atasnya yang sedikit gingsul. 

Sekarang dia serba elegan, berubah menjadi wanita so dewasa yang membosankan. Dari beberapa kawan kudengar sekarang dia mempunyai beberapa outlet makanan di beberapa pujasera di beberapa mall besar. Dia sekarang berbincang tentu dengan gaya berbeda, tawanya ditahan, langkahnya anggun tapi terpaksa, tampak terkadang seperti robot. Giginya terlihat rapi, rambut panjang,  menyapa kawan-kawan dengan nada bicara yang kering dan sopan. Bahasan pun berbeda, bahasan membosankan seputaran ekonomi bangsa, peluang bisnis, bahkan tak sungkan bicara mengenai beberapa anggota dewan di parlemen yang menjadi rekanan bisnis. 

"semua manusia akan berubah, jika memang tidak berubah, mungkin dia tidak berkembang..". aku pun hanya menjawabnya dengan senyum. "aku masih orang yang sama.." ujarku pendek sambil senyum saat ia menanyakan kabar. "masih orang yang sama yang doyan coret-coret tembok orang? atau orang yang sama yang doyan bikin orang lain nungguin lama kalo janjian karena motor mu yang sering mogok?". tanyanya lagi. Aku pun terbahak, es sepertinya telah terlihat mencair..   

sebetulnya hingga kuliah tingkat 2 kami masih sering berhubungan, tapi keadaan berkata lain, aku ditawari kerja di balikpapan, aku keluar kuliah, dan meneruskan kuliah diploma kelas karyawan di balikpapan. hubungan kami berdua tak berlangsung mulus, 3 bulan setelah itu, kami pun putus.

Malam semakin larut, beberapa kawan beranjak pulang, tersisa hanya beberapa. Aku menariknya ke ujung, mojok di sofa, tempat ini jika malam berubah menjadi klab malam, lampu menjadi sedikit redup, dan musik mulai diperdengarkan lebih keras. kami menikmati sebotol minuman yang dipesan. Aku beranikan mendekat sambil tertawa, kurangkulkan tangan kananku di pundaknya, sambil kupegang kepala dan mengelus rambutnya yang tercium sangat harum. Tanpa terasa, kami berdua larut, yang kuingat selanjutnya aku sudah melihatnya tertidur pulas di kontrakanku yang tak jauh dari situ, tanpa busana..   
Sesungguhnya, beberapa dari mereka masih berjalan di tempat yang sama dan tak ingin berubah..  

Wednesday, December 31, 2014

mungkin bukan sekarang..


Aku melihatmu begitu lelah hari ini, bukan fisik. seperti menimang banyak masalah. kau seka rambut yang menutupi kacamata, terlihat mengganggu, karena rutin kau lakukan, tapi sepertinya kau tetap tak mau memotong ponimu itu. 

rambut seleher, entah model apa, bukan mode terkini, sudah jarang wanita menggunakan model rambut itu, aku menduga bukan karena kau konvensional, tetapi kau seorang yang konsisten. Entah buku tebal apa yang kau baca saat itu, namun melihatmu memakai kaca mata sambil membaca buku tebal itu membuatmu terlihat sangat seksi. 

pagi tadi aku melihat posting twittermu, kau pasang foto kau berpura-pura tertidur di salah satu meja kafe. sebelahmu terlihat cangkir berisi kopi. wajahmu terlihat berminyak, kantung matamu terlihat, mungkin pekerjaan kantor sedang banyak, dan kurang tidur. terlihat alami tetapi, hingga membuatku menyimpannya ke dalam dokumen di komputer, hingga berkumpul dengan puluhan potomu lainnya. 

Beberapa bulan lalu, kau menyanyi di sebuah acara sosial, bersama seorang kawan. suaramu bagus. saat itu kau memakai jaket tipis warna orange yang sedikit berbulu, kaos warna putih, dan diselendangkan syal warna hitam di lehermu, tasmu casual warna hitam dan coklat kulit.aku selalu ingat apa yang kau kenakan.  

ah sudah setengah dua, sudah saatnya aku kembali ke kantor, mungkin lain kali aku akan memberanikan diri berkenalan denganmu..  

Monday, December 8, 2014

work sucks, i know.. (3)

10 menit berlalu.. sekarang bibirku dan bibirnya sedang berciuman, hangat, kami memainkan lidah, ciuman ini berirama seakan kami adalah pasangan yang sudah lama berhubungan, aku baru tersadar bahwa yang kucium ini sendy, aku ingin menarik bibirku, tetapi tangan kanan sendry begitu erat memegang bahu kiriku, matanya tertutup, seakan sangat menikmati, terkadang kepalanya mengadah keatas sambil sedikit mengerang dan menggigit bibir bawahnya sendiri, seakan dia membiarkanku terus menikmati wajah dan lehernya dengan ciuman.
aku pegang kepalanya, aku tarik bibirku, aku memandangnya, dia kaget dengan gerakanku, kami berdua seperti kerasukan, aku berdiri, tersenyum padanya dan melangkah pergi.. 

Tuesday, November 11, 2014

work sucks, i know.. (2)

aku berusaha menahan komentar atas apa yang ninda bicarakan barusan, aku meliriknya pelan, menyimpan buku dan berbisik sambil mendekatinya "shut up.." ujarku. ninda tertawa terbahak, dia mengira aku akan menciumnya. oh semesta, mengapa kau mengenalkan aku dengan wanita seperti dia, ujarku dalam hati sambil kesal.
"ya udah deh nanti aku gantiin bir kamu.." ujar ninda sambil melenggang pergi dari kursi. kembali aku sendiri meneruskan membaca buku yang tadi sempat terpotong. tak lama terdengar lagi suara sepatu wanita dari kejauhan, ternyata itu sendy, entah apa yang membawa sendy kemari. sendy duduk disebelahku, tak berkata sepatah kata apapun sambil memegang handphonenya, membuka aplikasi path dan sekali kali membalas BBM entah dari siapa, aku hanya melihatnya sekilas.

beberapa detik aku sempat terbesit mengenai hidup. sambil berujar dalam hati bahwa sebenarnya aku cukup bahagia, hidup nyaman, bisa menyelesaikan studi di salah satu universitas terkenal di bandung, anak tunggal, ayah asli bekasi, sedang ibu asli bandung. sejak kecil kami tinggal di jakarta, ayahku lulusan salah satu sekolah tinggi kejuruan terkenal di Indonesia, sejak lulus dia langsung diterima bekerja di salah satu instansi pemerintah, meneruskan pendidikannya tak lama kemudian di salah satu universitas swasta terkenal di jakarta. sedang ibu, adalah seorang pekerja keras, dia berbisnis katering sejak aku menginjak SMA, dia kadang sudah pergi ke pasar pukul 3 dini hari bersama pegawainya.

sendy bertanya "aku pengen ngeroko, boleh ga?", dengan kaget aku langsung saja mengiyakan, sendy sebetulnya bukan perkokok, aku sekali lagi enggan bertanya, karena sedang malas jika kemudian aku harus terjebak dalam curhatnya. sendy menyalakan rokok yang entah dia dapatkan dari mana. "kamu ga nemenin aku ngeroko?" tambahnya. aku hanya menggelengkan kepala sambil terus berusaha konsentrasi pada buku yang kubaca. aku baru tersadar bahwa ruangan ini sebetulnya tidak boleh merokok, tapi lagi dan lagi, aku malas membuka obrolan dengan sendy karena alasan yang sama dengan sebelumnya.

tiba-tiba sendy bersender di pundakku, rokoknya ternyata mati, dia nyalakan tapi tidak dia hisap, matanya menerawang kosong, aku masih terdiam, pura-pura santai, aku sadar bahwa yang sedang bersender di pundakku ini adalah pacar teman SMA ku, indra. yang kutau indra memang aktif di organisasi keagamaan semenjak SMA, tak heran sekarang dia berkerja di salah satu majalah berbasis keagamaan. pasangan yang serasi menurutku, keduanya taat beragama, kesopanannya dijaga, dan yang kudengar mereka akan segera menikah awal tahun depan. tapi kulirik lagi sebelah kiriku, si calon pengantin wanita ini sekarang bersender di pundakku dengan tatapan kosong. ingin rasanya aku berucap sesuatu, tapi tak bisa, konsentrasiku sudah buyar, entah apa yang ada dipikiranku.. 
(bersambung)

Saturday, October 25, 2014

work sucks, i know.. (1)

 
siang itu aku duduk di depan meja kantor, entah mengapa hari ini terasa melelahkan. kawanku yang lain baru saja masuk kantor seusai makan siang dan shalat jumat, dihadapanku sebelah kanan terlihat setumpuk laporan kerja yang harus kubereskan sebelum lusa, sebelah kiri ada beberapa action figure yang sengaja kusimpan agar meja ini tak terlihat sepi. tepat dihadapanku layar monitor yang menampilkan persentase download-an album belle and sebastian yang baru dan aplikasi microsoft excel yang tak tertutup semenitpun dari pukul 9 pagi ini.

tetapi di tanganku sudah terpegang sebuah buku berjudul history of forensic psychology, aku sudah sampai halaman 57, bab 2, yang berjudul eyewitness memory. aku memang suka membaca banyak hal mengenai ilmu psikologi forensik. kejiwaan pelaku kejahatan, ingatan saksi, dan semacamnya buatku adalah suatu hal yang menyenangkan untuk dipelajari. sudah menjadi niat untuk membawa buku ini ke tempat sepi favoritku di lantai atas. sudah tak sanggup aku meneruskan pekerjaan hari ini.

kantorku banyak diakui sebagai kantor yang memang sangat nyaman untuk bekerja, dengan sirkulasi udara dan cahaya matahari yang sangat bagus membuat semua tamu yang pernah berkunjung kesini, memujinya. interior designernya mungkin juga sengaja mengatur kondisi ruangan agar setiap pegawai tidak mudah terdestraksi oleh rekannya yang lewat. salah satu ruang favoriteku ada di lantai atas, di lantai ini terdiri dari beberapa 3 ruang rapat, satu ruang tunggu dan kamar kecil, setiap ruang rapat hanya dibatasi fiber dan kaca kedap suara, di ujung sebelah kanan, ada ruangan tunggu dan balkon kecil yang hanya dibatasi beberapa tanaman-tanaman setinggi setengah meter, ruangan ini biasa digunakan oleh pegawai yang akan menggunakan ruang rapat. lantai atas ini hanya rutin digunakan pada awal bulan dan awal minggu, pada hari2 menjelang akhir pekan, ruangan2 ini hampir selalu kosong. 20 halaman buku history of forensic psychology kuselesaikan disitu beberapa hari lalu, tenang, tak banyak suara, sambil sesekali melihat keindahan kota jakarta dari lantai 9 kantorku.

namanya ninda, tadi pagi dia menghampiri mejaku, bercerita tentang rencana bisnis yang akan dilakukan olehnya dan suaminya. maklum, sepasang suami istri itu baru saja mengikuti seminar seorang wirausahawan sukses yang suka menggunakan kekayaannya sebagai bahan motivasi dalam seminarnya. entah kenapa, buatku kesuksesan bisnis besar-besaran dan dalam waktu cepat hanya terjadi pada 2 tipe manusia, mereka sang pioneer suatu produk atau mereka yang beruntung (terjadi mungkin 100.000:2). sisanya? entahlah. aku pribadi lebih memilih bekerja biasa saja, menjadi pekerja nine to five, walaupun banyak motivator bisnis kadang membencinya. iya, ninda sudah lama menikah selama 2 tahun, suaminya bekerja sebagai staf di salah satu bengkel mobil besar di bandung, mereka bertemu hanya akhir pekan. kehidupan mereka yang saya lihat nampaknya terlalu biasa, ninda dibesarkan dilingkungan sosial yang aktif, sementara suaminya anak rumahan biasa. ninda pernah bekerja sebagai SPG selama kuliah dulu, ninda kadang rindu pada kegiatan bersosialnya yang sering dia lakukan dulu sebelum menikah. ya setidaknya itu yang kudengar dari sendy, teman sebelah mejaku, kawan baik ninda. sendy sendiri adalah seorang yang kulihat taat beragama, pakaiannya selalu sopan, ibadahnya rajin, sendy pun merupakan tempat bergunjing yang sangat menyenangkan.

kulangkahkan kaki menuju lantai atas, kubawa sebotol bir ukuran kecil yang biasa kusimpan di laci mejaku. memang tidak dingin, menjadi bir hangat yang tidak lezat, tetapi lumayan menemani membaca buku di lantai atas. tak ada kawan lain yang tau "tempat pribadiku" ini, sehingga jarang yang datang untuk nongkrong disitu juga. baru saja 2 halaman kubaca, terdengar suara langkah sepatu wanita, ternyata itu ninda, dia terlihat dari jauh sudah senyum, pasti mau bercerita mengenai bisnis dia lagi atau bagaimana dia ingin resign dan menjadi full-time business woman, whuffhh.. pasti membosankan. dia melihat botol birku, dia semakin tersenyum, aaahh ternyata kamu suka minum bir juga, ujarnya setengah teriak. juga? pertanyaan yang tak kukeluarkan karena malas membahasnya nanti. ninda sebenarnya menarik, perawakannya membuat laki2 pasti melirik. badan tidak terlalu tinggi, parasnya cantik, kulit putih, selalu bernuansa sporty casual dalam pakaian resmi sekalipun, memakai kacamata tebal, lesung pipi, rambut pendek sebahu. namun yang membuatku malas adalah bagaimana dia dan mulutnya yang tak pernah berhenti berbicara, terlalu bawel buatku. oh dan aku tidak suka omongan2nya mengenai motivasi wirausaha. blah!

ninda memulai pembicaraan tentang bagaimana project kerjanya yang menurutnya membingungkan, hingga bagaimana suaminya tidak bisa pulang ke jakarta akhir pekan ini. sungguh sebenarnya aku tidak peduli, aku mendengarkan omongan ninda sambil membaca buku dan menjawab seperlunya, sialan buku ini sudah mau masuk bab yang sangat menarik dan aku tidak bisa konsentrasi. ninda mengambil botol birku, dia meminumnya, tanpa izin terlebih dahulu. bir hangat sialan yang tersisa setengah lagi ninda habiskan begitu saja tanpa merasa bersalah, aku hanya bisa menarik nafas. otakku tetap konsentrasi pada buku hingga sesaat kuterhenti saat ninda berucap "aku kangen banget waktu aku single, i would do anything to feel it back.."..
(bersambung)

Saturday, August 23, 2014

malam tak pernah gagal membuatku tersenyum..

Malam itu aku duduk di salah satu cafe di daerah kaliwaron, surabaya. sudah 3 bulan aku bertugas di kota pahlawan ini. kupesan teh chamomile hangat untuk menemani makan malamku yang hampir tak kusentuh. pak jani, pimpinan perusahaanku menugaskanku untuk "membereskan" kantor cabang di surabaya. ada sedikit masalah setelah kantor cabang ini ditinggal pa marno yang wafat.
sebuah email datang, aku membacanya, ini isinya:

halo, bagaimana kabarmu? semoga kau baik2 saja sekarang. aku mendengar kau sekarang ditugaskan di surabaya ya? aku kemarin bertemu pak jani di toko olahraga di bintaro saat mengantarkan suamiku membeli raket tenis, iya, aku sudah menikah sekarang, 6 bulan lalu. waluya subrata nama suamiku, dia seorang bankir, umurnya kita hyanya berbeda 4 tahun. waluya, atau biasa kupanggil mas uya, dia seorang yang kaku pada wanita, hidupnya dihabiskan dengan bekerja dan belajar. saat bertemu denganku pun dia tidak menunjukkan rasa suka, setelah 3 bulan baru dia menyatakan suka padaku, itupun lewat seorang kawannya. secara profesional, terima kasih telah mengajarkanku untuk menjadi seseorang yang mandiri, mengajariku mengenal kehidupan yang lebih baik, mengajariku untuk tidak lagi menjadi gadis manja yang tidak mengenal dunia ^.^  
ingatkah kau dulu kita pernah bermimpi untuk berbulan madu menjelajah negara2 di asia tenggara? aku melakukannya dengan mas uya, dia begitu senang dengan "jiwa petualanganku", dengan kemandirianku, dia mencintaiku karena kebebasanku, itu yang dia katakan. kami menjelajah thailand, vietnam dan kamboja, menjadi backpacker sejati, kami bahkan tidur di bandara atau hostel kecil, kami tidak tidur di hotel indah nan mewah, kami berkenala. 
mas uya sedang tugas ke kuala lumpur selama 4 hari, aku kebetulan sedang membuka foto2 bulan madu kami, namun yang kuingat kamu, karena ini semua pernah menjadi rencana kita..
ah sudahlah, selamat malam. 
salam, 
vita. 

aku terdiam, meneruskan minum teh chamomile hangat yang ada disebelahku, dari jauh kumelihat nissa, sahabat dekat vita yang sekarang berdinas di surabaya, ternyata sudah datang, kuberjalan menyambutnya, lalu mencium keningnya..


Monday, May 19, 2014

satu malam di braunschweig (end)..


Asri harus pergi, esok aku tak akan melihatnya lagi tersenyum, melihatnya lagi marah karena mantelnya sobek atau melihat kesalnya dia akan tugas Prof Putten membuatnya tidak istirahat yang cukup beberapa hari.

sekarang sudah malam, aku sudah bertemu asri tadi siang, kami makan siang sebentar sambil memberikan sebungkus coklat favoritnya, itung-itung hadiah perpisahan. perbincanganku tadi siang tak begitu lama.

sekarang 11:05 waktu braunschweig, aku lepaskan selimut, aku pakai jaket, persetan! aku menuju apartemen asri..

aku merasa sepanjang jalan, lagu copeland "don't slow down" terdengar, seperti sebuah film, ujarku dalam hati..

"you could take everything I have
just don't leave my side now, don't leave my side
you could take everything I have
Just don't leave my side now, don't leave my side..
"

pintu terbuka, nafasku masih tak teratur.. "aku ingin memilikimu utuh.." itu ujarku pada asri saat dia terkaget melihatku berada di depan apartemennya pukul 11 malam. kupeluk dia erat,
"cause your words hit like a train and I can't ignore it, this moment could be our last, you fall in love and I'm running after, you move way too fast. but don't slow down and don't let go, hold me close now, lest I fall. they say I don't know how to love the right way but you make me feel, you make me feel like I do.. i love you..", tambahku sambil mengecup bibirnya.. aku tau aku tak bisa membiarkan harapan ini ada, aku berbalik, melangkah menjauh dari asri yang masih terdiam, menuju gelap dan dinginnya jalanan braunschweig dengan hati yang tersenyum karena sebuah kejujuran..

Saturday, March 22, 2014

Ya Allah..


Ya Allah, maafkan atas keangkuhanku, atas kesombonganku, atas diriku yang selalu ingin paling benar, atas kehidupanku yang jarang mengingatMu, atas dzikir yang jarang terucap, atas shalat yang tak teratur, atas rasa diri yg selalu ingin berada diatas, atas semua kesalahan.. 
Ya Allah, maha besar Engkau.. 
Ya Allah, maafkan aku..   

Tuesday, March 18, 2014

satu malam di braunschweig (2)..


aku bangun terlalu subuh, sedang kelas masih 5 jam lagi, sejak semalam aku tak bisa tidur nyenyak, terlelap hanya 2 jam, entah mengapa.
sebulan lagi asri mungkin sudah meninggalkan braunschweig, sedang aku masih sekitaran 1,5 tahun lagi terjebak di kota kecil dan dingin ini. entah kenapa aku mengingat senyum asri tiba-tiba..

Sunday, January 26, 2014

air teh manis..

seorang sahabat lama mengirimkan gambar gelas berisi air teh, air teh manis kuduga, aku tersenyum, kami sama2 mengerti apa maksud dari air teh manis tersebut. 
sahabat lamaku ini dulu suka menginap di kostan, kamar kostku yang kotor dan banyak sekali barang2 tak jelas tersimpan disana. hampir setiap akhir pekan saat kami berkumpul bersama yang lain, berusaha melupakan penat akan tugas kuliah yang sangat sialan atau dengan pekerjaan sehari-hari yang mengharuskan kami hidup bersama bangkai2 birokrat. 
setiap berkumpul, kami tersenyum, kami semua tau bahwa hidup adalah kumpulan kegilaan yang wajib dijalani. kematian, tidak punya uang, miskin, kaya, menang lotre, gaji, kreditan motor, beli dvd, beli buku bekas, bayar spp kuliah, mentraktir pasangan, beli minuman, lapar, nonton bioskop, bos sialan, pekerjaan yang memuakkan, ini adalah hidup. ini kenapa kami tak pernah menjadikan semuanya faktor kesedihan yang berlarut. 
setiap pagi, setelah semalaman tak sadar, semalaman penuh tawa, tangis, curhat yang tak kami sadari, aku biasa menyajikan teh manis untuk mereka, untuk sahabat2ku yang baru saja bangun dari terkapar, membantu mereka menyegarkan diri, menikmati pagi, lalu pulang dan bersiap memulai rutinitas esok harinya dengan perasaan gembira bahwa akhir pekan mereka indah. 
air teh manis, kami merindukanmu, begitu juga aku merindukan semua kawan2ku yang berada disana, kita semua akhirnya menjadi seseorang yang sangat tidak kita inginkan sama sekali, kita menjadi orang lain, tapi setidaknya setiap melihat air teh manis, aku bisa tersenyum, bahwa aku pernah menikmati akhir pekan yang indah selama bertahun-tahun.. 
cheers to all my brothers and sisters out there! 
     

Friday, November 29, 2013

bersamamu utuh..

pagi tadi kau pegang tanganku saat menyebrang jalan, kau pun ambilkan minumku, lychee tea dingin. senyum yang kau pasang pagi tadi pun membuat hangat bandung. kadang aku ingin bertanya, maukah kau lari denganku? menuju alam bebas seperti chris mccandless? hitchhikes into the wilderness? 
besok aku ingin membelikanmu sarapan pagi, sebuah roti hangat dan teh manis yang gulanya hanya satu sendok kecil. aku ingin melihatmu memakai coat panjang warna coklat itu, yang menutupi baju kerjamu, cocok dengan syal yang kau lingkarkan di lehermu agar hangat itu. 
hari senin kau cerita mengenai adikmu yang baru saja ujian sidang, malamnya kau BBM aku menanyakan apa aku sudah tidur atau belum, kau pun ucapkan selamat tidur sebelum kau tutup telepon. 
lesung pipimu, rambut panjang yang selalu kau ikat, kaca mata yang pas menunjang lekuk pipi dan hidungmu yang tak terlalu mancung, mata indahmu yang terlihat bersih, gigimu yang kau biarkan sedikit tak rapi tanpa barisan kawat gigi. itu semua menyenangkan buatku. 
aku ingin melihat kau tersenyum besok pagi, aku tau kau akan bercerita lagi mengenai kelanjutan bos di tempat kerjamu yang tak berhenti menggoda inggrid, sahabatmu. dan aku akan menanyakan kenapa dia tak menggodamu, lalu kau akan menjawab bahwa kau tak tergoda, jelek, tidak cantik, jarang mandi. lalu kita akan tertawa bersama dengan keras sampai orang sekitar kita melihat. 
aku ingin membawamu pergi, abandons all of our possessions, bersamamu utuh.. 

Thursday, October 10, 2013

satu malam di braunschweig..

braunschweig christmas market atau biasa kami sebut weihnachtsmark sudah dimulai, beberapa orang terlihat berfoto di bawah lampu tulisan weihnachtsmark yang cukup besar. sekitar 150an toko kecil atau booth berdiri rapi. menjelang natal ini semua terlihat meriah, mulai dari toko roti hingga toko permen, semua menghias dirinya. 
asri menarik tanganku, dia mengajakku ke salah satu booth kecil, tempat berjualan boneka, boneka nya mirip seperti kermit, terlihat lucu memang, dia membeli lalu kemudian memeluknya erat, "ini bakalan jadi boneka favorit aku..", dia tersenyum, aku benar benar tak peduli, aku hanya ingin pulang dan menghindari udara dingin ini. 
sebenarnya braunschweig bisa menjadi kota yang super romantis, suasana natal, pohon natal dimana mana, lampu kelap kelip, dingin, ini sudah sempurna, tapi bulan desember di jerman selalu menjadi musuh bagi kami yang terbiasa hidup di iklim tropis. 
hanya sejam, kami kembali ke apartemen, sebuah gedung berwarna merah bata, lantai tiga, kamar sebelah kiri, dekat dengan sungai oker. asri menyalakan laptopnya, membuka aplikasi skype. layar terlihat lebih terang, mungkin satu jendela video muncul, tak lama terdengar suara seorang lelaki bersuara berat, menyapa asri dengan panggilan sayang, asri pun membalas sapaannya dengan mesra. asri lalu bercerita tentang bagaimana hari ini kuliahnya di hochschule für bildende künste, bagaimana tugas akhir industrial design yang membuatnya stress, suara di sebrang itu terdengar kemudian menenangkan asri, asri tersenyum, terlihat seakan gadis berambut sebahu, yang berlesung pipi dan berkaca mata itu merasa nyaman. tak lama, asri menutup pembicaraan sambil hampir mengecup cam di laptopnya, si lelaki terdengar tersenyum, ucapan demi ucapan terdengar darinya, asri pun tersenyum kembali, lalu mematikan laptopnya. 
aku, aku terduduk di belakang laptop, melihat asri berbincang dengan lelaki itu hingga beres, asri menghampiriku, memelukku dari belakang, mencium kepalaku. sambil melepas kacamatanya, membuka ikat rambutnya, dia menarik tanganku ke tempat tidurnya, saat itu aku langsung ingin meredefinisi ulang kata "memiliki"..    

Thursday, September 12, 2013

obrolan pagi..

sesungguhnya suara itu tak bisa diredam
mulut bisa dibungkam
namun siapa  yang mampu
menghentikan nyanyian bimbang
dan pertanyaan-pertanyaan
dari lidah jiwaku..


pagi itu erik sengaja menyetel keras puisi widji thukul yang ada di album homicide, arin mendekat, memegang kepalanya lalu bertanya ada apa. tapi erik diam sesaat, erik tak ingin membuatnya khawatir, erik hanya menjawab "ga ada apa-apa.." sambil tersenyum..  

Friday, August 2, 2013

Friday, May 31, 2013

novemberku..


aku ingat saat itu bulan november tahun 2009, malam itu udara singapura sedang terasa dingin, namun aku harus keluar hotel untuk bertemu dengan daniel, seorang kawan asal indonesia di sebuah club bernama fresh, aku tau datang ke club malam di singapura tak mungkin tidak menghabiskan uang, jadi aku text daniel saat aku berada di depan fresh, daniel tidak membalas, dia datang menghampiriku dan mengajakku masuk, aku jujur padanya jika aku memang tidak punya uang. kunjunganku ke singapura dikarenakan masalah pekerjaan, tidak lama, hanya 5 hari, dan aku tidak ingin menghabiskan uang ku di tempat seperti itu. 
"come on, relax lah, come and enjoy singapore from different angels.." ujar daniel sambil menarik tanganku. daniel adalah sahabat lamaku, dia tinggal di singapura sejak 4 tahun lalu, dia sekolah dan tidak kembali lagi ke indonesia. akhirnya aku masuk, terpaksa, sambil sebenarnya penasaran apa yang ada di dalam fresh, salah satu club malam terkenal di singapura saat itu. 
aku ingat saat itu DJ preemo spinning hiphop beats, membuatku sedikit betah di dalam. daniel masih berbincang dengan teman-temannya, aku terdiam menikmati sebotol bir yang tadi daniel sempat sodorkan padaku. tiba tiba daniel mengenalkanku pada april, dia menggunakan dress hitam, kepalanya menggunakan semacam hiasan seperti yang sewring kulihat dipakai kaisar romawi, berwarna emas, entah apa namanya. april sosoknya mungil, dia ternyata asli indonesia juga, half chinese, tidak cantik tapi super manis, habis aku memujinya saat itu dalam hati. 
daniel meninggalkanku berdua dengan april, sambil menyodorkan sebotol minuman yang belum pernah kulihat sebelumnya. aku dan april hampir menghabiskan sebotol minuman itu, entah akupun lupa apa yang april dan aku bicarakan selama itu hingga mampu menghabiskan sebotol minuman tersebut. tapi ada satu kalimat malam itu yang kuingat dari april saat gelas terakhir kami minum.. 
"if a guy and a girl having a huge good vibe, and they just met, is it possible it will end up in bed...?"  

Thursday, January 24, 2013

reaching dreams..


pernahkah anda khawatir akan masa depan? khawatir akan hidup? yang saya tau, hidup sesuai dengan apa yang diinginkan kadang melalui banyak jalan mendaki dan penuh semak belukar, namun saya pun percaya bahwa pada akhirnya hidup sesuai passion itu adalah kebahagiaan.
anda percaya proses? maka anda harus siap dengan berbagai resiko menggapai mimpi, yang jelas tidak akan selalu lancar dan mudah,