sore itu langit bandung sedikit gelap, ditemani hujan rintik rintik, aku dibonceng seorang teman naek motor, sambil merokok sebatang djarum super yang membuatku batuk (karena aku memang tidak merokok), entah kenapa otakku berjalan dan berpikiran banyak hal juga flash back dan melihat semua masa lalu, sambil melintasi jalan asia afrika dan lembong aku terdiam menatap langit.. malam harinya aku langsung menulis..
apa yang kutangkap tadi.. sebuah surat, entah untuk siapa, mungkin untuk salah satu dari kalian yang membaca ini..
".. hingga pagi tadi mata masih sulit untuk kututup, suasana kamar tak dapat kusalahkan, juga jam kerja yang tak teratur, apalagi depresi hingga gangguan psikologi ataupun neorosa. aku pernah membaca dari suatu studi epidemiologi yang memang menjelaskan bahwa lebih dari 25% masyarakat mengalami sulit tidur, tapi lupakan, ini bukan tentang insomnia,
ini tentang aku, kamu, tentang kita.terkejutkah? tak perlu, api akan hadir apabila bebatuan beradu dan alam akan tersenyum jika singa berdamai dengan mangsanya, semua ada sebab dan akibat.
adalah birunya langit dan deburan ombak di bibir pantai yang membuatku menulis ini, indahnya dirimu dan tarian ucapanmu yang mendorongku mengutarakan semua, aku menyukaimu.terkejutkah lagi? tidak perlu, seperti aku bilang, semua ada sebab dan akibat. aku tau bahwa pintu terasa terlalu pendek, maka aku rela untuk menunduk untuk memasukinya, aku sadar bahwa keindahanmu melampaui manusia, melewati keindahan sobekan surat cinta yang berwarna pink dan bergambar hati.
aku mengerti ini hanyalah alkisah tanpa hasil, tapi jangan beri aku senyuman artifisial, karena aku hanya mencoba jujur.
dihadapanmu aku bukan siapa siapa, karena itu aku tidak pernah mengharapkan lebih. karena buatku, keindahan dunia bukanlah ketika E-bay hancur, tapi saat kau merasakan hal yang sama.
aku memberanikan diri menulis ini, aku bergulat lebih sulit dibandingkan dengan tesis berdesis marxist namun bertopeng sufi, bisa kau bayangkan itu? tuhan membuatku untuk berani, walau dengan lutut bergetar akhirnya aku berani.
mengapa aku menyukaimu? kau tak pernah memberikanku detourment permanen, reruntuhan masa lampau mampu kuulang dan kutata kembali, seperti reformasi tapi dalam batasan cinta, kau membuatku menghapus penjara mitos, membuatku mampu memainkan instrumental tanpa not balok pada suatu konser orkestra. atau kata lain dari semua itu, kita sama, aku suka.
sudah, hanya itu yang ingin kusampaikan, janganlah mengharapkan kehidupan abadi, tetapi jelajahilah semua kemungkinan sampai tuntas, itu mottoku, aku ingin menjelajahi dirimu, maukah kau? ini pertanyaan retorik, aku hanya ingin kau mengetahuinya, bahwa aku menyukaimu.."
its about the love we share, the dreams we refuse to surrender, and the secrets we hold..
Tuesday, February 27, 2007
Sunday, February 18, 2007
politics of hiphop
Politics of Hiphop
I am.. a revolutionary.. I am the people, I'm not the pig..”[Fred Hampton]
Chuck D pernah bilang jika Hiphop adalah “CNN of black people”, tapi sekarang definisi ini berubah banyak, hiphop membukakkan mata banyak orang pada berbagai belahan dunia, termasuk indonesia. Beberapa rapper dengan lirik lirik yang bernuansa politik atau minimalnya bersinggungan dengan politik sudah banyak terdengar dan makin banyak lagi terdengar.
Siapa yang tak tau Public enemy, socializtic, dead prez dsb.
sebenarnya hal ini bukanlah suatu hal baru atau sesuatu yang berada “diluar”, setiap orang melakukan kegiatan politik praktis setiap hari, tanpa disadari, “politik” tidak pernah jauh dari diri kita. Hingga saya percaya, setiap orang sudah ditakdirkan untuk aware atau sadar akan politik.
Sekarang, beberapa rapper mencoba untuk memainkan peran positif dalam komunitasnya, misalnya KRS ONE yang dimana namanya merupakan singkatan dari “Knowledge Reigns Supreme Over Nearly Everyone” dan beberapa rapper disekitarnya memberikan nasihat pada rapper lainnya untuk menyimpan blink blink yang biasa mereka pakai dan mulailah untuk langsung memberitahu orang orang tentang apa yang telah terjadi di komunitas kulit hitam. KRS ONE juga mulai sebuah kampanye anti kekerasan (pada lagunya dan konsernya) dan meneribitkan artikel yang bilang berjudul “new tecnologies of violence that make it more lethal”, dimana dia menerangkan lebih lanjutnya bahwa kekerasan itu adalah masalah masalah sosial yang terjadi, dan kita harus mengumpulkan pengetahuan tentang apa yang sebenarnya menumbuhkan kekerasan di kalangan masyarakat, dan bagaimana solusi nya untuk mengontrol teknologi dan kondisi sosial untuk tidak berkembang lebih lanjut lagi.
Pesan saya, untuk beberapa rappers, ini waktunya untuk bangun, waktu untuk berbuat sesuatu, waktu untuk get educated as to what is happening, waktu untuk berpikir dan bertindak, dalam hal ini, pada awalnya cobalah bertindak untuk diri sendiri dulu. Ingat “don’t believe the hype” dan “fight the power” kata Public Enemy ga nyambung kan? Hehe.
Seorang filusuf bernama Herbert marcuse, pernah ngomong “While some rap is sexist, some is mediocre, and some is just plain silly, the best rap music is intensely political and incarnates, that described as "the great refusal, refusing to submit to domination and oppression”. Yang dimana kurang lebih artinya adalah bentuk musik rap yang paling bagus adalah yang berpolitik, yang menjelaskan bentuk penolakan, penolakan atas dominasi dan tekanan. Kemudian diperkuat lagi oleh seorang pemerhati studi budaya bernama douglas kellner, dia pernah bilang bahwa Lagu lagu Rap biasanya call up groups that are doing something, seperti black radical heroes and traditions of the recent past, seperti Malcolm X, Black Panther, H Rap Brown, dsb. Bentuk bentuk rap seperti ini adalah contoh yang baik untuk bentuk politik dari posmodernisme yang merubah bentuk kultur media against the established society.
berbagai bentuk perang atas deskriminasi hingga bentuk pemaparan apa yang sebenernya terjadi pada masyarakat adalah bagian utama dari tumbuhnya hiphop khususnya rap, mereka jadikan ini sebagai media yang sangat efektif untuk dipublikasikan. Karena pada akhirnya Rap merupakan suatu bentuk signifikan dari petualangan posmodern yang mengingatkan masyarakat multikultural dan multirasial untuk memahami perbedaan dan belajar untuk hidup dengan orang lain dan dengan berbagai perbedaannya.
"My music is a product of who I am and where I came from. I'm made in America. I'm not from Mars or nowhere else.."
[Ice Cube]
*tulisan ini adalah seutuhnya pendapat pribadi dengan mengambil bahan atau kutipan dari buku atau artikel yang penulis miliki.
*tulisan ini terbit pada edisi pertama journal BEATBANGERZ, sebuah jurnal komunitas hiphop bandung.
I am.. a revolutionary.. I am the people, I'm not the pig..”[Fred Hampton]
Chuck D pernah bilang jika Hiphop adalah “CNN of black people”, tapi sekarang definisi ini berubah banyak, hiphop membukakkan mata banyak orang pada berbagai belahan dunia, termasuk indonesia. Beberapa rapper dengan lirik lirik yang bernuansa politik atau minimalnya bersinggungan dengan politik sudah banyak terdengar dan makin banyak lagi terdengar.
Siapa yang tak tau Public enemy, socializtic, dead prez dsb.
sebenarnya hal ini bukanlah suatu hal baru atau sesuatu yang berada “diluar”, setiap orang melakukan kegiatan politik praktis setiap hari, tanpa disadari, “politik” tidak pernah jauh dari diri kita. Hingga saya percaya, setiap orang sudah ditakdirkan untuk aware atau sadar akan politik.
Sekarang, beberapa rapper mencoba untuk memainkan peran positif dalam komunitasnya, misalnya KRS ONE yang dimana namanya merupakan singkatan dari “Knowledge Reigns Supreme Over Nearly Everyone” dan beberapa rapper disekitarnya memberikan nasihat pada rapper lainnya untuk menyimpan blink blink yang biasa mereka pakai dan mulailah untuk langsung memberitahu orang orang tentang apa yang telah terjadi di komunitas kulit hitam. KRS ONE juga mulai sebuah kampanye anti kekerasan (pada lagunya dan konsernya) dan meneribitkan artikel yang bilang berjudul “new tecnologies of violence that make it more lethal”, dimana dia menerangkan lebih lanjutnya bahwa kekerasan itu adalah masalah masalah sosial yang terjadi, dan kita harus mengumpulkan pengetahuan tentang apa yang sebenarnya menumbuhkan kekerasan di kalangan masyarakat, dan bagaimana solusi nya untuk mengontrol teknologi dan kondisi sosial untuk tidak berkembang lebih lanjut lagi.
Pesan saya, untuk beberapa rappers, ini waktunya untuk bangun, waktu untuk berbuat sesuatu, waktu untuk get educated as to what is happening, waktu untuk berpikir dan bertindak, dalam hal ini, pada awalnya cobalah bertindak untuk diri sendiri dulu. Ingat “don’t believe the hype” dan “fight the power” kata Public Enemy ga nyambung kan? Hehe.
Seorang filusuf bernama Herbert marcuse, pernah ngomong “While some rap is sexist, some is mediocre, and some is just plain silly, the best rap music is intensely political and incarnates, that described as "the great refusal, refusing to submit to domination and oppression”. Yang dimana kurang lebih artinya adalah bentuk musik rap yang paling bagus adalah yang berpolitik, yang menjelaskan bentuk penolakan, penolakan atas dominasi dan tekanan. Kemudian diperkuat lagi oleh seorang pemerhati studi budaya bernama douglas kellner, dia pernah bilang bahwa Lagu lagu Rap biasanya call up groups that are doing something, seperti black radical heroes and traditions of the recent past, seperti Malcolm X, Black Panther, H Rap Brown, dsb. Bentuk bentuk rap seperti ini adalah contoh yang baik untuk bentuk politik dari posmodernisme yang merubah bentuk kultur media against the established society.
berbagai bentuk perang atas deskriminasi hingga bentuk pemaparan apa yang sebenernya terjadi pada masyarakat adalah bagian utama dari tumbuhnya hiphop khususnya rap, mereka jadikan ini sebagai media yang sangat efektif untuk dipublikasikan. Karena pada akhirnya Rap merupakan suatu bentuk signifikan dari petualangan posmodern yang mengingatkan masyarakat multikultural dan multirasial untuk memahami perbedaan dan belajar untuk hidup dengan orang lain dan dengan berbagai perbedaannya.
"My music is a product of who I am and where I came from. I'm made in America. I'm not from Mars or nowhere else.."
[Ice Cube]
*tulisan ini adalah seutuhnya pendapat pribadi dengan mengambil bahan atau kutipan dari buku atau artikel yang penulis miliki.
*tulisan ini terbit pada edisi pertama journal BEATBANGERZ, sebuah jurnal komunitas hiphop bandung.
Monday, February 12, 2007
pa diman
Pa Diman
Pagi itu lagu kolam susu dari Koes Plus terdengar semakin keras di rumah kontrakan yang hanya terdiri dari ruang tamu, kamar tidur, kamar mandi dan dapur itu. Diikuti nyanyian sumbang dari seorang paruh baya, bercelana panjang biru tua, memakai kaos oblong putih sobek. Badannya wangi karena belum lama selesai mandi, perawakannya sedikit kurus namun terlhat masih tegap. Istrinya baru saja setahun meninggalkannya menghadap yang maha kuasa dan sejak dahulu mereka berdua tidak dikaruniai anak, jadi keadaan rumah tersebut semakin sunyi sejak setahun lalu. Kopi yang kini disiapkannya sendiri masih terlihat mengepul dan terletak di meja kayu yang sudah keropos. Sementara Pa Diman, begitu dia dipanggil, masih terlihat sibuk mengusapkan minyak rambut ke rambutnya yang sudah nampak tipis. Penampilannya rapih, dikenakannya kemeja warna biru muda yang ber-emblem lambang perusahaan tempat dia bekerja di saku sebelah kirinya, dan kembali ke kamar untuk mengambil tas yang biasa dia bawa ke tempat bekerja nya tersebut.
Namun kembali waktu seperti biasa dapat membunuh kapan saja, saat melihat jam dia langsung terkejut, waktu sudah menunjukkan pukul 7:00 pagi. Dimana bus angkutan yang biasa menjemputnya seharusnya sudah pergi sejak 5 menit lalu. Dengan gerak cepat, dia mengambil semua peralatan dan mengunci pintu kontrakan yang penuh dengan stiker, seperti stiker pemilu, stiker partai, dan stiker tanda kebersihan dari RT/RW setempat. Langkah cekatan kemudian dia lakukan, berharap bus nya masih belum pergi, kakinya masih dapat memilah mana jalan yang becek dan tidak, berlari menuju ujung gang yang jarak dari depan ke rumahnya sekitar 100 meter. Ini adalah pertama kalinya dia terlambat sejak 15 tahun lalu dia mulai bekerja hingga sekarang.
Dewi fortuna berada dipihaknya kali ini, bus yang dinantinya masih ada didepan gang. Kawan-kawannya sudah berada di bus tersebut, terduduk dengan rapih, beberapa masih menguap karena udara pagi itu sangat dingin, semalam kota besar ini diguyur hujan lebat hingga mengakibatkan banjir di beberapa titik. Langkah kaki dia naikkan ke tangga naik bis, dengan senyum dan sedikit terengah-engah dia masuk ke bis. Tatapan kawan-kawannya terlihat beda beberapa hari ini, semua tetap menyapa semu melihat Pa Diman. Tapi dia tidak memperdulikannya, dengan senyum hangat dia membalas setiap sapaan, dan duduk di bangku tengah dimana dia biasa duduk selama beberapa tahun terakhir ini.
Selama di perjalanan, semua terdiam. Bis akhirnya sampai pada akhir perjalanan, yaitu di pabrik tekstil besar di daerah pinggiran kota. Semua turun dari bis dan kemudian langsung melangkahkan kaki ke sebuah gedung besar dimana terdapat alat-alat besar yang dikendalikan oleh mesin, dan pekerja-pekerja tersebut adalah faktor pendukung dari berjalannya mesin-mesin besar tersebut. Sementara itu, Pa Diman, tidak ikut masuk ke gedung besar tersebut, Pa Diman hanya duduk jongkok di depan gedung besar tersebut sambil melihat karyawan lain bekerja, matanya menatap kosong gedung-gedung besar, truk-truk yang melintas, dan semua yang ada didepannya, Dan pada saat istirahat siang, Pa Diman membuka bungkusan kecil berupa nasi dan telur asin dan potongan daging ikan sisa semalam. Para pekerja menyapa Pa Diman saat mereka melintas di hadapannya dan seperti biasa, Pa diman membalasnya dengan senyuman hangat. Dan saat jam kerja habis, Pa Diman ikut pulang bersama teman-temannya naik bis yang sama dengan yang tadi pagi ia naik.
Hari sudah menjelang sore, dan Pa Diman sudah sampai di depan gang menuju rumah kontrakannya. Adzan magrib sudah mulai terdengar dari corong Masjid dekat rumahnya. Dan dia melangkah pulang dengan masih ditemani senyum hangat tanpa beban. Dan obrolan di bis angkutan karyawan masih tetap sama setiap saat pulang, yaitu betapa kasihannya Pa Diman, dimana sebenarnya dia telah terkena penyempitan karyawan, dan telah di PHK beberapa hari lalu. namun karena Pa Diman sudah bekerja selama 15 tahun dan merasa menyatu dengan Pabrik tempatnya bekerja itu, maka dia tidak dapat lepas dan meninggalkan pabrik tersebut begitu saja. Setiap hari setelah pemecatan tersebut, Pa Diman masih menginjakkan kakinya di pabrik dan masih menganggap dirinya adalah pekerja dari pabrik tersebut walaupun sekarang kerjanya hanya berdiam dan terduduk sambil memandangi tempat yang sudah menafkahinya selama 15 tahun itu sambil tidak lupa menyapa semua yang melewat dengan senyum hangat khasnya...
......
* tulisan ini pernah dimuat pada salah satu web sastra lokal sebagai cerpen of the week.
Pagi itu lagu kolam susu dari Koes Plus terdengar semakin keras di rumah kontrakan yang hanya terdiri dari ruang tamu, kamar tidur, kamar mandi dan dapur itu. Diikuti nyanyian sumbang dari seorang paruh baya, bercelana panjang biru tua, memakai kaos oblong putih sobek. Badannya wangi karena belum lama selesai mandi, perawakannya sedikit kurus namun terlhat masih tegap. Istrinya baru saja setahun meninggalkannya menghadap yang maha kuasa dan sejak dahulu mereka berdua tidak dikaruniai anak, jadi keadaan rumah tersebut semakin sunyi sejak setahun lalu. Kopi yang kini disiapkannya sendiri masih terlihat mengepul dan terletak di meja kayu yang sudah keropos. Sementara Pa Diman, begitu dia dipanggil, masih terlihat sibuk mengusapkan minyak rambut ke rambutnya yang sudah nampak tipis. Penampilannya rapih, dikenakannya kemeja warna biru muda yang ber-emblem lambang perusahaan tempat dia bekerja di saku sebelah kirinya, dan kembali ke kamar untuk mengambil tas yang biasa dia bawa ke tempat bekerja nya tersebut.
Namun kembali waktu seperti biasa dapat membunuh kapan saja, saat melihat jam dia langsung terkejut, waktu sudah menunjukkan pukul 7:00 pagi. Dimana bus angkutan yang biasa menjemputnya seharusnya sudah pergi sejak 5 menit lalu. Dengan gerak cepat, dia mengambil semua peralatan dan mengunci pintu kontrakan yang penuh dengan stiker, seperti stiker pemilu, stiker partai, dan stiker tanda kebersihan dari RT/RW setempat. Langkah cekatan kemudian dia lakukan, berharap bus nya masih belum pergi, kakinya masih dapat memilah mana jalan yang becek dan tidak, berlari menuju ujung gang yang jarak dari depan ke rumahnya sekitar 100 meter. Ini adalah pertama kalinya dia terlambat sejak 15 tahun lalu dia mulai bekerja hingga sekarang.
Dewi fortuna berada dipihaknya kali ini, bus yang dinantinya masih ada didepan gang. Kawan-kawannya sudah berada di bus tersebut, terduduk dengan rapih, beberapa masih menguap karena udara pagi itu sangat dingin, semalam kota besar ini diguyur hujan lebat hingga mengakibatkan banjir di beberapa titik. Langkah kaki dia naikkan ke tangga naik bis, dengan senyum dan sedikit terengah-engah dia masuk ke bis. Tatapan kawan-kawannya terlihat beda beberapa hari ini, semua tetap menyapa semu melihat Pa Diman. Tapi dia tidak memperdulikannya, dengan senyum hangat dia membalas setiap sapaan, dan duduk di bangku tengah dimana dia biasa duduk selama beberapa tahun terakhir ini.
Selama di perjalanan, semua terdiam. Bis akhirnya sampai pada akhir perjalanan, yaitu di pabrik tekstil besar di daerah pinggiran kota. Semua turun dari bis dan kemudian langsung melangkahkan kaki ke sebuah gedung besar dimana terdapat alat-alat besar yang dikendalikan oleh mesin, dan pekerja-pekerja tersebut adalah faktor pendukung dari berjalannya mesin-mesin besar tersebut. Sementara itu, Pa Diman, tidak ikut masuk ke gedung besar tersebut, Pa Diman hanya duduk jongkok di depan gedung besar tersebut sambil melihat karyawan lain bekerja, matanya menatap kosong gedung-gedung besar, truk-truk yang melintas, dan semua yang ada didepannya, Dan pada saat istirahat siang, Pa Diman membuka bungkusan kecil berupa nasi dan telur asin dan potongan daging ikan sisa semalam. Para pekerja menyapa Pa Diman saat mereka melintas di hadapannya dan seperti biasa, Pa diman membalasnya dengan senyuman hangat. Dan saat jam kerja habis, Pa Diman ikut pulang bersama teman-temannya naik bis yang sama dengan yang tadi pagi ia naik.
Hari sudah menjelang sore, dan Pa Diman sudah sampai di depan gang menuju rumah kontrakannya. Adzan magrib sudah mulai terdengar dari corong Masjid dekat rumahnya. Dan dia melangkah pulang dengan masih ditemani senyum hangat tanpa beban. Dan obrolan di bis angkutan karyawan masih tetap sama setiap saat pulang, yaitu betapa kasihannya Pa Diman, dimana sebenarnya dia telah terkena penyempitan karyawan, dan telah di PHK beberapa hari lalu. namun karena Pa Diman sudah bekerja selama 15 tahun dan merasa menyatu dengan Pabrik tempatnya bekerja itu, maka dia tidak dapat lepas dan meninggalkan pabrik tersebut begitu saja. Setiap hari setelah pemecatan tersebut, Pa Diman masih menginjakkan kakinya di pabrik dan masih menganggap dirinya adalah pekerja dari pabrik tersebut walaupun sekarang kerjanya hanya berdiam dan terduduk sambil memandangi tempat yang sudah menafkahinya selama 15 tahun itu sambil tidak lupa menyapa semua yang melewat dengan senyum hangat khasnya...
......
* tulisan ini pernah dimuat pada salah satu web sastra lokal sebagai cerpen of the week.
postmodern?
kamar, 03:00 feb, 08, 2007
tadi terjadi pembicaraan tentang isu isu internasional terutama lebih banyak tentang hal teologis dengan seorang teman dekat. tapi dari percakapan tersebut ada sedikit pembahasan tentang termonologi posmodernisme dan posmodernitas, keduanya lebih menarik dan ingin saya bahas sekarang lewat tulisan ini, karena jika saya menulis hal teologis pasti bakalan berbau rasis.. hehe.. untuk keterangan : posmodernisme adalah wacana pemikiran dan posmodernitas adalah sebuah kenyataan sosial.
semula saya menganggap bahwa istilah ini baru hadir pada sekitaran setelah perang dingin, karena saya menganggap nilai "modern" baru terasa setelah tahun tahun tersebut. tapi ternyata setelah saya baca, hal ini sudah ada sejak tahun 1917, hm.. saya sebenarnya ga ngerti juga kenapa taun ini udah ada istilah posmodernisme. yang saya garis bawahi dari posmodernisme ada 3 hal, yaitu suatu wacana kritis pada estetika modern, pada arsitektur modern dan pada filsafat modern. kasarnya mah, bentuk pembangkangan pada bentuk2 modern lah. misalnya gini, pekerjaan bukan lagi bentuk kenikmatan tetapi sarana pemenuhan kenikmatan, misalnya untuk nonton bioskop, beli parfum mahal, jalan2 ke amerika dsb.) ngerti kan?
yang jadi pertanyaan, sebenernya saya juga ga ngerti "modern" tuh waktunya dimulainya kapan dan bagaimana suatu era bisa disebut era modern? apa setelah ada penemuan2 listrik/lampu dan semacamnya? setelah jaman pencerahan? setelah jaman revolusi ilmu pengetahuan dimana pengetahuan tentang kosmos tidak lagi berdasarkan pada teks suci atau filsafat kuno? (dalam hal ini, hidup galileo! hehe) anjir lieur nya..
udah ah males ngetik lagi euy. lagi nonton inggris lawan spanyol. cheers!
ps : TS Elliot pernah ngomong, yg kurang lebih gini, "sebenarnya jangan ngomong ngerti kalo baru tau permukaannya saja, tapi kayaknya sekarang tau permukaannya doang aja udah dianggap mengerti, karena tuntutan jaman modern". hehe.. funny..
tadi terjadi pembicaraan tentang isu isu internasional terutama lebih banyak tentang hal teologis dengan seorang teman dekat. tapi dari percakapan tersebut ada sedikit pembahasan tentang termonologi posmodernisme dan posmodernitas, keduanya lebih menarik dan ingin saya bahas sekarang lewat tulisan ini, karena jika saya menulis hal teologis pasti bakalan berbau rasis.. hehe.. untuk keterangan : posmodernisme adalah wacana pemikiran dan posmodernitas adalah sebuah kenyataan sosial.
semula saya menganggap bahwa istilah ini baru hadir pada sekitaran setelah perang dingin, karena saya menganggap nilai "modern" baru terasa setelah tahun tahun tersebut. tapi ternyata setelah saya baca, hal ini sudah ada sejak tahun 1917, hm.. saya sebenarnya ga ngerti juga kenapa taun ini udah ada istilah posmodernisme. yang saya garis bawahi dari posmodernisme ada 3 hal, yaitu suatu wacana kritis pada estetika modern, pada arsitektur modern dan pada filsafat modern. kasarnya mah, bentuk pembangkangan pada bentuk2 modern lah. misalnya gini, pekerjaan bukan lagi bentuk kenikmatan tetapi sarana pemenuhan kenikmatan, misalnya untuk nonton bioskop, beli parfum mahal, jalan2 ke amerika dsb.) ngerti kan?
yang jadi pertanyaan, sebenernya saya juga ga ngerti "modern" tuh waktunya dimulainya kapan dan bagaimana suatu era bisa disebut era modern? apa setelah ada penemuan2 listrik/lampu dan semacamnya? setelah jaman pencerahan? setelah jaman revolusi ilmu pengetahuan dimana pengetahuan tentang kosmos tidak lagi berdasarkan pada teks suci atau filsafat kuno? (dalam hal ini, hidup galileo! hehe) anjir lieur nya..
udah ah males ngetik lagi euy. lagi nonton inggris lawan spanyol. cheers!
ps : TS Elliot pernah ngomong, yg kurang lebih gini, "sebenarnya jangan ngomong ngerti kalo baru tau permukaannya saja, tapi kayaknya sekarang tau permukaannya doang aja udah dianggap mengerti, karena tuntutan jaman modern". hehe.. funny..
Monday, February 5, 2007
blame it on him
UNTUK KAWAN KAWAN YANG ADA DI JAKARTA,, SABAR YA,, INSYA ALLAH BENTAR LAGI BANJIRNYA SURUT,, SABAR DAN BANYAK BERDOA,,
Subscribe to:
Posts (Atom)