Wednesday, January 23, 2008

penyemangat..

aku memang menyukainya, matanya sedikit sipit, kulitnya putih, tinggi. sekarang dia sedang menyelesaikan jenjang master di salah satu universitas di jakarta, dia mengambil jurusan psikologi. dia sangat ingin menjadi seorang psikolog terkenal. aku mencintai semangatnya, aku menyukai sifat tidak kenal menyerahnya, aku mengagumi kepintarannya.
sekitar setahun kebelakang, dia sempat mengetahui jika aku menyukainya, tak ada kata terucap dari mulutnya, akhirnya tak beberapa lama kemudian akhirnya aku mengetahui sendiri bahwa dia sudah memiliki pasangan. hingga pada akhirnya dia memilih menghindar, dia memilih untuk tidak lagi berkomunikasi denganku, baik lewat telepon atau sekedar bertegur sapa.

beberapa bulan kebelakang keadaan berubah, dia meneleponku, bercerita bagaimana tuntutan kuliah dan kerja membuatnya tertekan. bercerita bahwa tesisnya banyak kesalahan, bercerita bahwa bos di tempat dia bekerja sekarang sangat tidak mendukungnya untuk kuliah. dia sempat menangis di telepon. aku terdiam, aku tidak tau jalan keluarnya, aku hanya bisa menyemangatinya. karena mungkin hanya untuk itu tujuan dia menghubungiku, hanya untuk menyemangatinya.

itu bukan pertama kalinya, setelah kejadian itu dia lebih sering meneleponku. aku lebih sering jadi penyemangatnya. dia lebih sering menceritakan masalahnya. aku tidak menyukainya..
hingga tadi pagi, dia kembali meneleponku, masih menceritakan seputaran masalah yang sama.
aku sudah tidak kuat, aku muak..
"NGAPAIN MASIH TELEPON2 AKU?! KAMU GA TAU APA PERASAAN AKU KAYA GIMANA KE KAMU?! PERSETAN SAMA MASALAH2 KAMU! PERGI SANA! JANGAN TELEPON2 LAGI!!! OK?!!"

dia terdiam, menangis, terdengar suaranya, aku sama sekali tidak merasa salah, aku bahagia, aku rasa dia mengerti. aku lepas. yes!






tapi entah kenapa aku masih terdiam, dan masih mendengarkan dia menceritakan masalah masalahnya..
itu hanya inginku, aku masih membutuhkannya..

Thursday, January 17, 2008

saat saya kecil..


saat saya kecil..

Saya merasa bersyukur tumbuh dalam sebuah keluarga yang memahami agama tidak secara kaku, walaupun pada saat saya kecil, saya pernah merasakan betapa kerasnya ajaran agama dari orang tua, diharuskannya mengaji setiap hari, mengikuti les agama dan shalat berjamaah adalah suatu aturan yang wajib yang kulakukan setiap hari olehku. aku sering merasa terpaksa melakukannya, entah kenapa. malahan pd suatu kesempatan, ayahku pernah mengusulkan untuk aku masuk pesantren saja dan tidak mengikuti pendidikan umum, saat itu jujur, aku sangat berontak dan menolak, hingga akhirnya wacana tersebut tidak terlaksana. namun hal ini kemudian hanya berlangsung beberapa tahun, setelah itu, mereka lebih mengajarkan agama yang dilihat dari hal etika, tingkah laku, dan moralitas, terutama ketika kita harus berhadapan dengan masyarakat. ini yang sangat saya syukuri kemudian hari.
tetapi ketika saya berhadapan dengan masyarakat, Islam diajarkan dengan keras, saya pernah ikut pesantren kilat selama hampir satu bulan saat saya masih sekolah dasar, disitu saya sempat kaget, karena para senior kami menyuruh kami shalat dengan sambil memukul badan/kaki kami dengan sarung! entah kenapa, pada saat itu saya sudah merasa bahwa itu salah. mungkin penafsiran akan teks Al Quran akan hal yang menerangkan hal tersebut, diterapkan salah, karena cara tangkapnya salah, atau menurut Derrida, pendeskontruksian makna. tapi itu menurut saya..
apakah islam yang diajarkan sebagian masyarakat pada saat kita kecil adalah kekeliruan? tetapi mungkin saat kita dewasa, kita bisa memilah mana islam yang paling benar, berada diantara kaum moderat yang terlalu berfikir liberal dan terlalu bersifat pada kebebasan individual dan kaum fundamentalis yang sering muncul dengan paras keras yang anti perubahan dalam pemikiran, menolak terhadap hermeneutika, menentang pada pluralisme sosial dan pengingkaran terhadap perkembangan historis dan sosiologis umat manusia. mampukah kita berada di tengah tengah mereka dan menjadi muslim dalam koridor yang kita percayai sendiri? ambil yang baik dan buang yang buruk..