Wednesday, September 23, 2009

mungkin..

Mungkin Tuhan Mulai Bosan
Melihat Tingkah Kita
Yang Selalu Salah dan Bangga
Dengan Dosa-dosa
Atau Alam Mulai Enggan
Bersahabat Dengan Kita..

Saturday, September 19, 2009

konsistensi religius?

saya seorang beriman. saya seorang yang percaya. namun saya akui, di hidup saya (entah hidup orang) memang tidak bisa dipaksakan kedatangan rasa religius dalam diri, tidak bisa pula dipura pura ada namun sebenarnya berdiri diantara ada dan tidak. saya adalah seseorang yang dimana grafik religius nya suka naik dan turun, tidak pernah tentu. rasa religius itu saya definisikan misalnya rajin shalat, bersikap yang dianjurkan dan semacamnya. jangan coba bicarakan bahwa kita ini manusia dan memang tidak pernah lepas dari rasa khilaf dan salah. saya sudah tahu itu. dan sangat basi jika kenapa saya seperti itu dijawab dengan retorika semacam itu. jika memang seperti itu, kenapa saya harus membahas. logika semacam ini seperti sebuah diskusi umum tentang narkoba yang kemudian kesimpulannya adalah kembali pada diri masing masing. sangat lucu. siapa yang tidak ingin konsisten berada di jalur yang benar, ya setidaknya itulah yang saya inginkan. saya ingin menjadi manusia yang bisa dibilang rajin ibadah nya lah, bertindak baik, walaupun tidak harus sempurna. pada 2 bulan saya bisa menjadi seorang iblis, 2 bulan selanjutnya saya bisa menjadi seorang santri. masalah konsistensikah? benarkah saya punya masalah tentang hal konsistensi dalam hal religi? entahlah, mungkin seperti itu. nah ambil saja itu masalah utamanya, lalu bagaimana cara mengatasinya? sumpah saya tidak tahu, sampai sekrang pun hal ini masih saya pikirkan bagaimana penyelesaiannya, atau jangan jangan saya kembali ke jawaban, kembali pada diri masing masing. haha. mungkin pada akhirnya seperti proses hidup lainnya, ini adalah pencarian menuju suatu puncak. entah di puncak tersebut manusia mendapatkan rasa atau hal seperti apa. namun nampaknya saat konsistensi ini bisa dilakukan, rasa tenang akan terjadi, izinkan saya menjadi islam seutuhnya..  

Friday, September 18, 2009

sendiri..


saya selalu menikmati malam, sendiri, rasa tenang dan sepi..
adalah orgasme..

Wednesday, September 9, 2009

kami..

di depan rumah gerobak bubur pa jaka disenggol sebuah motor, tak ada kerusakan, pa jaka hanya berteriak kaget, sudahnya senyum kembali ia. kumpulan orang di ujung jalan itu merasa dibicarakan terus oleh remaja masjid. masalah aqidah, kebatilan, mereka malu. cukup dengan malu yang dapat menyelesaikan masalah, puja puji untuk dunia jika memang itu terjadi. adit mendorong gerobak es melintas dengan siulan lagu tombo ati, cukuplah dinyanyikan, maka hati akan menuruti isi liriknya, mungkin itu katanya. darmin si tentara kemarin sore itu tetap ngebut saat melewati jalanan di daerah RT 8, banyak anak anak, tak ada yang berani menegornya, bahkan pa RW. sedangkan rani, polwan di polres yang tinggal di kostan jumadi hanya bisa menggerutu, dasar orang ga tau diri, yang hanya diucapkan di dalam hati atau ke si mbok jamu.

kami rumit, kami bhineka, itu bahasa pancasila, tak usahlah anda berbicara masalah politik pada kami. sudah terlalu lemah kami, sudang sangat merasa rakyat, itu ujar bang darko. bereskan saja baik baik, kekeluargaan, jika memang ada apa apa, kata pa RW pelan pelan.

laksana raja di laut, lagu melayu itu terdengar dari kamar siti, yang baru 2 hari kemarin putus dengan amir, pelayan rumah makan ampera. amir selingkuh dengan reni, sales kosmetik asal ciamis. reza kepanasan, sambil sms.an dia menjelaskan pada sandra bahwa tarif esia itu lebih murah dari flexi dan m3 lebih murah dari simpati, sandra merasa kalah, ganti m3 besok ah, ujarnya pelan. sambil meladeni bubur, pa jaka bercerita, dia baru kredit motor honda vaio, uang muka cuma 500 ribu plus ktp dan kartu keluarga. adit lewat lagi, kali ini dia siulan dia menyanyikan lagu nidji, kenapa ya anak itu senang sekali bersiul.

kami jatuh tapi tak luluh lantah, kami di bawah, tak sanggup berdiri tapi kami dapat lancar merangkak. kami tak perduli dengan statistik kemiskinan pemerintah, satpol pp pemda, pemilihan walikota, apalagi kegiatan badan intelejen, kunjungan presiden, atau bahkan diplomasi negara. kami tersenyum di blok jalanan kecil ini, menjalankan hari dengan senyum selama ada matahari dan air hujan.

Wednesday, September 2, 2009

nindy..

saya masih ingat nindy pernah mengeluarkan kalimat saat kami sedang nyeruput teh botol dekat lapangan salah satu SD di daerah antapani sekitaran 4 tahun lalu, "kalo gw bisa nemu mesin yang bisa nge-undo kejadian, gw bakalan bayar berapapun juga", jawaban saya waktu itu hanya "emang loe mampu? buat apa emangnya?". nindy diam, dia tak tau mesin itu buat apa, saat itu kuliahnya hancur, pacarnya lebih memilih eksis di grup band nya dibandingkan menghabiskan waktu dengannya dan ayahnya ketahuan selingkuh dengan tukang warung di belakang kompleknya.    

saya tidak pernah suka dengan pembahasan masa lalu, saya pikir semua orang sudah seharusnya menutup semua lembaran hal tersebut, yang utama adalah sekarang dan masa depan. bagi nindy saat itu hidup memang sudah tak lagi dapat diajak kompromi. dia sudah lelah. tak tau harus bagaimana. dia terpaksa menambah 2 tahun lagi masa kuliah. dan aku sudah lebih dulu lulus saat itu. sejak itu kami tak bertemu lagi. kami hilang kontak. 

beberapa hari kebelakang saya bertemu dengannya saat saya turun dari bus di daerah cicaheum, nindy sudah berseragam kantor salah satu provider ponsel. dari jauh dia sudah tersenyum sambil menunjuk nunjuk, dia sudah total berbeda. dia langsung memelukku saat aku akan menjabat tangannya, kangen katanya. "bulan puasa euy! hehuehe.." ujarku, "gpp atuh, da cuma meluk kangen" jawabnya simple. jam sudah menunjukan pukul 5 sore, sebentar lagi buka puasa, tapi nindy memaksaku untuk singgah ke kost.an nya yang berada di daerah jalan suci tak jauh dari situ.      

di kost an nindy sudah ada makanan bekas tadi sahur, sesudah ganti baju dan cuci muka, dia kemudian menghangatkan makanan, setelah itu langsung duduk bersila di depanku, satu pertanyaan yang langsung dia tanyakan padaku "inget ga dulu kita pernah duduk di SD yang deket lapangan tea?" aku hanya tersenyum. aku sudah mengetahui kemana arah pembicaraan nindy. dari situ dia langsung berbicara panjang lebar. ternyata salah satu pegawai TU sempat menawarkan perbaikan nilai lewat jalan belakang, cuma 100 ribu per nilai ujarnya, akhirnya hampir habis 1.500.000 nilai nindy berubah B semua. tak lama nindy menyelesaikan skripsi dan lulus. sang pacar nya yang dulu, akhirnya terkatung katung band nya. tak jelas dikontrak oleh label apa lalu kena tipu, akhirnya band nya bangkrut dan bubar, dan masalah sang ayah tidak begitu berakhir baik, dia lebih dulu meninggal sebelum masalah itu beres, ibu nindy sempat stress selama 6 bulan namun sekarang sehat dan membuka usaha katering di daerah tanggerang. akhir cerita nindy sambil meneteskan air mata memelukku yang saat itu sedang dalam posisi bersila, hingga posisi kami aneh (hehehe..). lalu nindy bicara "makasih yah, omongan kamu dulu beneran ngaruh banget".  

aku sempat kaget, emang apa yang aku omongin ke nindy sampai dia bisa sampe berkata terima kasih, aku akhirnya sadar, bahwa kalimat "buat apa emangnya?" itu menjawab semuanya. masa lalu tidak akan pernah bisa kita jalani kembali. kita hanya bisa berbuat untuk sekarang dan masa depan. dan kembali kami nyeruput teh botol, namun kali ini dengan tawa dan bahagia..