Tuesday, January 24, 2006

Nabi, Dukun, dan Penyair
Gejala kenabian selalu menantang untuk dibahas, bukan saja buat para ilmuwan modern, tapi juga filosof klasik Islam. Saya bisa mengatakan, "prophecy is among the most puzzling phenomenon" atau gejala kenabian, adalah fenomena yang paling mengundang teka-teki. Yang lebih menantang juga adalah menerangkan gejala pewahyuan; bagaimana mungkin Tuhan yang "speaking wordlessly" berkomunikasi dengan "lower world" dengan cara yang "wordly".
Pertanyaan sederhana dan mengganggu: apakah benar bahasa Tuhan adalah bahasa Arab? Apakah Tuhan punya bahasa? Apakah mamang ada "sacred language" (in the true sense of the word)? Isn't it that any language belong in the last analysis to human being?
Masalah ini rumit sekali, dan saya tak berpretensi menguasai seluk-beluk soal ini secara baik, apalagi memberi jawaban. Saya menikmati saja teori-teori yang dikemukakan para filosof dan teolog Islam klasik mengenai masalah ini. Saya baru membaca karya klasik Fakhr al-Din al-Razi, Al-Mathalib al-'Aliyah. Karya ini, buat saya, luar biasa dahsyat dan mendalam, meskipun secara keseluruhan nadanya apologetik.
Dalam buku itu ada bab khusus tentang argumen untuk membuktikan kebenaran kenabian Muhammad. Masalah pewahyuan tentu disinggung. Al-Razi meminjam analisis kaum filosof emanasionis seperti Ibn Sina dan Al-Farabi untuk menjelaskan martabat dan hierarki akal manusia yang berpuncak pada "akal kenabian" (al-`aql al qudsi, al-nafs al-qudsiyyah). Inti argumen ini secara implisit adalah: wahyu tak bisa turun secara random pada semua orang. Penerima wahyu haruslah memenuhi kualifikasi tertentu. Orang yang secara kognitif tidak kompeten, tidak akan pernah menerima wahyu.
Dengan kata lain, wahyu adalah proses dua belah pihak: Tuhan dan manusia sekaligus. Walaupun Tuhan Maha Kuasa, tetapi Dia tak akan memperlakukan wahyu seperti permainan rolet: diputar serrrrrrr, lalu siapa saja, secara acak, bisa dapat rejeki nomplok yang namanya wahyu. Argumennya sangat ndakik, dan rasanya saya tak ada waktu untuk menuliskannya di sini.
Yang menarik buat saya, persis setelah pembahasan tentang nubuwwah atau kenabian itu, ada bab lain tentang sihir, penyihir, dan dukun. Al-Razi membahas rinci, mendalam, dan detil tentang fenomena perdukunan dan sihir. Sebetulnya, pembahasan ini sebagian besar merupakan pengulangan dari pembahasan serupa yang pernah dilakukan Ibn Sina. Pertanyaan saya dalam hati: kenapa bahasan tentang perdukunan dan sihir diletakkan setelah bahasan tentang kenabian?
Saya kira alasannya jelas: perdukunan adalah gejala yang hampir menyerupai kenabian. Dengan kata lain, perdukunan dan kenabian adalah "gejala mental" yang masih satu keluarga. Itulah sebabnya, dulu Nabi pernah dituduh sebagai dukun (kahin) atau penyihir oleh masyarakat Mekah. Tuduhan ini tak mungkin terjadi kalau tak ada kedekatan antara kedua gejala itu. Tetapi, tentu perdukunan mempunyai sifat-sifat yang secara kategoris berbeda dengan kenabian. Kenabian bersumber dari Tuhan, perdukunan dari Setan; meskipun pembuktian sesuatu berasal dari Tuhan dan yang lain berasal dari setan bukan perkara mudah.
Dalam seluruh sejarah kenabian, selalu ada masalah para "impostor", yakni nabi-nabi gadungan yang hanya mengaku-ngaku nabi tanpa bukti yang meyakinkan (ingat kisah Joan of Arc dalam tradisi Katolik). Tetapi, anyway, baik dukun ataupun nabi, keduanya punyai klaim telah menerima "inspirasi" dari sumber yang gaib. Soal sumber yang satu bersifat baik, yang lain jahat, itu perkara lain.
Yang menarik lagi, coba perhatikan sejumlah hadis yang mengecam keras orang-orang yang datang ke dukun. Sebuah hadis menyebutkan, seseorang yang mendatangi dukun, pahala ibadahnya akan hangus semua dalam kurun waktu 40 hari (tidak masuk dalam leger amal yang dipegang malaikat). Di sini, tampak adanya kontestasi antara kenabian dan perdukunan. Perdukunan adalah semacam "dunia gelap" yang bisa merongrong wibawa kenabian. Kenabian selalu keep an eye atas dunia perdukunan, sebab kalau tidak, otoritasnya dapat disubversi.
Para teolog Islam pun berusaha menghancurkan wibawa perdukunan, sebab ia memang mengancam kenabian. Tak heran kalau bahasan tentang perdukunan langsung menyusul bahasan tentang kenabian.
Pesaing kenabian yang lain adalah penyair. Sebagaimana Nabi, seorang penyair juga mengklaim mendapat inspirasi. Karena itu, dulu Nabi juga dituduh sebagai penyair. Wahyu menyangkal keras tuduhan ini. Para teolog Islam pun menyangkal kalau Alqur’an adalah puisi, sebab, jika dikatakan demikian, ada kekhawatiran Alqur'an adalah sama dengan puisi para penyair yang merupakan pesaing Nabi itu. Padahal, secara literer, beberapa ayat Alqur'an jelas menyerupai puisi, terutama puisi bebas (bukan puisi taf'ilah dalam istilah Ilmu 'Arudl atau ilmu tentang puisi klasik Arab –yakni puisi yang memakai meter atau ukuran/wazan).
Dengan demikian, kita telah melihat persaingan yang sengit antara Nabi, Dukun, dan Penyair.
Kalau kita lihat ketiga jenis manusia itu, akan tampak bahwa ketiganya bergerak pada level kognitif dan mental yang hampir serupa; ketiganya bergerak pada level inspirasi-intuisi. Dalam menegakkan klaimnya, ketiganya tidak menyandarkan diri pada bukti rasional, tetapi sejenis "keajaiban" yang datang dari dunia eksternal. Dalam kasus Nabi, keajaiban itu disebut "mukjizat"; pada dukun "istidraj"; dan pada penyair, "keajaiban kata-kata" atau mantra/thalâsim.
Ketiganya tidak pernah memakai argumen rasional untuk mendukung klaimnya masing-masing, meskipun Alqur'an, sebagai bukti kenabian Muhammad, telah diklaim mengajukan bukti-bukti rasional juga oleh para teolog Islam (menurut saya, klaim ini kurang begitu meyakinkan).
Dengan kata lain, baik Nabi, Dukun, dan Penyair mewakili suatu jenis artikulasi mental tertentu dalam sejarah peradaban manusia. Yaitu, artikulasi peradaban yang bersifat ekspresif-performatif. Inilah peradaban yang diwariskan oleh nabi-nabi Israel (Islam masuk juga dalam kategori ini).
Di seberang peradaban ini, ada jenis peradaban lain yang sumbernya bukan wahyu atau inspirasi, tapi penalaran rasional yang dingin, analitis, dan cenderung individualistik. Itulah peradaban yang lahir di Yunani, dengan "nabi-nabi"-nya yang tak kalah mengagumkan, seperti Socrates, Plato, dan Aristoteles. Mereka berangkat dari pengandaian yang berbeda, yaitu "skeptisisme".
Kaidah dasar dalam peradaban analitis-rasional adalah "ragu dulu, berpikir, baru percaya", yang berseberangan dengan etos peradaban ekspresif yang bersumber dari Ibrahim, "percaya dulu, baru berpikir". Dasar agama memang "percaya", sementara dasar filsafat adalah "ragu". Etos yang berkembang dalam kedua bidang itu sangat berjauhan.
Saya tahu, ini hanya simplifikasi dari fenomena yang sangat ruwet dan kompleks. Tetapi, tipologi peradaban ekspresif dan analitik bukan tidak mengandung kebenaran. Dengan kata lain, kita menyaksikan persaingan antara Peradaban Yerusalem vs Peradaban Yunani; antara Nabi di satu pihak dan filosof di pihak lain. Di dalam peradaban Yerusalem sendiri ada persaingan antara Nabi, Dukun, dan Penyair.

by Ulil Abshar-Abdalla.

3 comments:

Anonymous said...

Here are some links that I believe will be interested

Anonymous said...

I like it! Keep up the good work. Thanks for sharing this wonderful site with us.
»

Anonymous said...

Very pretty site! Keep working. thnx!
»